Bissmillahirohmannirrohim
Tertantang mengikuti lomba Menulis Cerita Nonfiksi dengan tema: “1001 Wajah Ibu: Memoar Pengasuhan Anak” yang diadakan oleh Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta dalam rangka Hari Ibu dan Milad Ibu Profesional yang akan jatuh pada bulan Desember nanti. Kali ini saya ingin berbagi cerita pengalaman pribadi tentang “Melatih anak mencintai Masjid”. Subtema akan kami fokuskan hanya pada pengalaman pribadi, pembiasaan pada dua anak laki-laki kami untuk sholat berjamaah di masjid yang akan saya sampaikan secara teknis.
Untuk judulnya saya rada lebay ya, hehehe.. biar semangat bacanya.😁
Meniti Perjalanan Terpanjang dan Terberat Dua Anak Lelakiku
Perkenalkan nama saya Ninit Aliya Ratnaningsih ummi dari Razin(11th), Rifqi(10th), Ayumi(6th). Aktifitas saya: belajar menjadi ibu dan istri yang dirindukan, belajar mencintai surat cintaNya (tahsin, tahfidz), belajar mengasah hati berbagi dan melayani, membersamai kegiatan teenager, belajar di IIP Bunsay Jakarta 3. Keluarga kecil kami terdiri dari 5 personal plus Abi,. Kami tinggal di sebuah perumahan purna tugas di Jakarta Timur, tepatnya di Cakung. Keluarga kami menyenangi berkemah dan berpetualang. Yoo.. kita ikuti sebagian momen petualangan kami…
Awal Pernikahan
Kala itu, alhamdulillah rasa syukur pada Illahi tak hentinya kami panjatkan, setelah 2,5 tahun pernikahan akhirnya kami diberikan amanah itu. Seorang anak laki-laki, miniatur abinya berada di gendonganku. Namun dibalik rasa syukur itu juga terbesir rasa kawatir, nantinya akan melalui perjalanan panjang dalam mendampinginya menjadi sosok mujahid. Membuat anak mencintai Masjid bukanlah hal sederhana bagi kami. Seorang laki-laki nantinya akan diwajibkan berjalan menuju masjid disetiap langkah kehidupannya. Bekal perjalanan panjang ini musti benar-benar kami persiapkan. Pemahaman awal kami dalam mendidik ibadah pada anak yaitu:
Ibadah cukup di “dikenalkan” di ajak bersama-sama mengikuti kita. Tidak perlu di berikan teori fiqih, tapi cukup diajarkan contoh nyata. Berikut ini beberapa tahapan yang kami lakukan:
Di usia anak pertama usia 0-1,5th
Kami lalui dengan mempersiapkan jam biologisnya (dengan catatan menyesuaikan kondisi anak). Sebisa mungkin terjadwal, disiang hari kami mengurangi sedikit jam tidur anak dengan bermain bersama, sehingga di malam hari bisa menggantikanya. Selepas Isya’ waktunya anak persiapan tidur🛏, sehingga menjelang subuh diharapkan anak sudah bisa terbangun.
Pada tahap ini ummi dan abinya menyertakan Amas Razin dalam sholat bersama. Saya juga berdialog padanya ketika akan melakukan sholat. Posisi Amas Razin ditidurkan di pinggir sajadah, jika sedang rewel terkadang saya menggendongnya sambil sholat. Di usia 1,5 tahun Amas Razin kedatangan teman baru didalam kehidupnya.. Adik Rifqi anak ke dua kami terlahir di dunia.
Ditahap usia 1,5-3 tahun, amas Razin sesekali Abi bawa ke masjid di waktu subuh. Setiap harinya ummi selalu mengajak sholat amas Razin dan adik Rifqi (usia 1 bulan) bersama dirumah. Jika kami sedang bepergian kami selalu menyempatkan berhenti di masjid terdekat. Di tahap ini kami mengenalkan gerakan sholat, pengenalan waktu sholat, dan pembiasaan sholat secara sederhana.
Di tahap usia 3-5 tahun, Ummi membawa jalan-jalan sore disekitar masjid sekedar membiasakan amas Razin dengan lingkungan masjid dan mengamati kegiatan masjid. Adik Rifqi ikut serta meski dalam gendongan ummi. Di waktu Subuh ummi dan abi bersama ke masjid, sambil membawa amas Razin dan terkadang adik Rifqi juga kami bawa serta ke masjid. Memberikan kesan positif kepada anak bahwa sholat di masjid adalah suatu hal yang istimewa sehingga mereka bangga pergi ke masjid. Pada tahap ini kami juga berikan secara sederhana, adab di dalam masjid (tertib dan menjaga kebersihan). Apresiasi ucapan sayang, senang, bangga dan pelukan tak lupa kami berikan kepada Amas Razin yang sudah dengan baik ikut sholat💝.
Berlahan-lahan ummi juga mengenalkan kegiatan sekitar masjid TPA(Taman Pendidikan Alquran). Selama ikut TPA Amas Razin berkenalan dengan teman baru, ummi dan adek Rifqi dengan sabar menunggu hingga waktu pulang mengaji. Di masjid amas Razin banyak bermain daripada mengaji (“ndak masalah”) ini modal awal membuat nyaman berlama-lama di masjid. Adik Rifqi pun jg ikut bermain di dalam masjid.
Ketika Sabtu dan Minggu abi menambah kebiasaan mengajak amas Razin sholat berjamaah dimasjid di waktu Maghrib dan Isya’🕖 terkadang Dhuhur dan Ashar pun juga. Melalui kegiatan TPA dan beberapa kali di ajak abi ke masjid ini, amas Razin mulai berani berangkat sendiri sholat Maghrib berjamaah meski tak di dampingi abinya. Dik Rifqi pun ikut serta berdua berjalan bersama amas Razin ke masjid sholat Maghrib berjamaah. Meski pada masa ini masih belum kontinyu ke masjid minimal sholat maghrib sudah mulai sering di lakukan mandiri berjamaah ke masjid.
Didiklah anak anak kita dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang.
Ya.. bukan dengan nama syariat, ahklaq, aurot, dan azab, murka, pembiasaan dan pendidikan..
Mungkin hasilnya tak Nampak segera. Tapi kelak kita terpesona, bahwa ternyata mereka akan melaksanakan segala perintahNya Lillahi Ta’ala
Lalu kitapun akan tersenyum bersama Tahmid
Alhamdulillahirobbil’alamin.
Adriano Rusfi
Tahap usia 5-7 tahun.
Alhamdulillah bersama adiknya amas Razin sudah semakin berani dan nyaman pergi ke masjid di waktu Maghrib. Sesekali Ashar juga mereka datangi. Di rentang umur ini, amas Razin sudah sekolah yang mana juga ada mutaba'ah kegiatan sholat, sehingga semakin memacu tertib sholat 5 waktunya. Dhuhur dilakukan berjamaah di sekolah. Sedangkan Ashar, Maghrib, Isya', dan Subuh mandiri ke masjid bersama adiknya terkadang bersama abi. Pada tahap ini banyak tantangan yang ditemui, kondisi semangatnya mulai naik turun📈 untuk datang ke masjid. Hingga akhirnya kami mulai mencari cara dengan pengumpulan point🔵 yang dapat ditukar dengan hadiah keinginan mereka. Hadiah yang kami berikan tetap mengarah pada hal yang menunjang perkembangan mereka. Dan kami arahkan pada permainan berupa sistem membangun dan merakit (Lego).
Sekilas memang motivasinya karena materi, tetapi alhamdulillah karena pembiasaan yang di lalui dengan rasa senang💖 tanpa paksaan dan adanya tujuan memperoleh sesuatu (meski jangka pendek) tubuh mungilnya terbiasa pergi mendatangi masjid untuk sholat berjamaah. Amas Razin dan adik Rifqi bersemangat dan terpacu segera melengkapi tabel point rewardnya dengan menunggu suara azhan.
Di Masa 7 tahun Rosulullah menganjurkan perintahkan anak shalat. Alhamdulillah di usia ini mereka sudah tidak cangung lagi melakukanya. Sedikit cerita tentang ceremoni ketika genap umur amas Razin 7 tahun: Ummi menitipkan sebuah kado kepada ibu guru kelasnya untuk diberikan kepada amas Razin. Kado ini berisikan baju koko dan berbagi kue rainbow cake 🍰bersama teman-teman. Ummi menyelipkan pesan sponsor bukan tentang miladnya tetapi tentang pesan kewajiban setelah anak mencapai usia 7 tahun. Ummi berharap pesan yang di sampaikan seorang guru yang di segani mampu berbekas dalam hatinya.
Ummi juga pernah mendapat ilmu: “Apabila sedari dini anak sudah dibiasakan untuk shalat pada waktunya dan merasakan kecintaan💓 kepada masjid, insyaaAllah kesadaran untuk melaksanakan shalat akan tumbuh🌱 dengan sendirinya. Walaupun demikian, kita tetap harus menegaskan kepada anak tentang wajibnya melakukan shalat ketika anak berusia tujuh tahun. Terlebih, pada usia masuk sekolah ini, pertumbuhan otak🧠 si kecil telah sempurna dan lebih siap menerima berbagai pelajaran📚. Pengulangan secara khusus akan kewajiban shalat lima waktu, akan dapat lebih dipahami pada usia ini.”
Usia 8 th- 11tahun.
Di usia ini yg kami lakukan selalu membersamai menjadi rolle mode bagi mereka. Mengingatkan, memotivasi, mengapresiasi bagian dari keseharian kami. Alhamdulillah.. di usia ini mereka sudah peka ketika mendengar adzan📢 sudah ada sensor segera berwudhu💦 meski tak jarang juga mereka baru berlari🏃 ketika mendengar iqomah. Terkadang mereka juga mulai malas tidak sholat ke masjid dengan beberapa alasan. Yang kami lakukan memohon padaNya😇 adalah sebuah keniscayaan. Alhamdulillah Allah memberi jalan , (kebetulan perumahan kami lingkungan komplek purna tugas yang tertutup, sehingga jarang ada anak seusia mereka bermain di jalan).
Amas Razin berkenalan dgn teman baru, dan terbiasa main bersama. Ini menjadi motivasi baru mereka bermain dan pergi sholat ke masjid bersama.
Tak berhenti sampai disini... hal kebaikan ini menyebar beberapa anak komplek yang selalu tertutup akhirnya keluar, bermain bersama dan berakhir pada kemasjid sholat berjamaah. Janjian saling menjemput di waktu sholat adalah hal yang dinantikan. Sekarang, lepas azhan berkumandang menjadi ramai bersahut sahutan suara anak-anak saling memanggil dan menjemput teman-temanya yang masih ada dirumah, bahkan di waktu Subuh sekalipun ini terjadi. Perjalanan ini masih panjang lantunan doa musti selalu terpanjat, mengiringi langkah kehidupan mereka..🛤
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”😇
Aamiin ya Robb, Wallahu'alam
Jakarta, 7 Oktober 2018
Ninit Aliya Ratnaningsih
Spesial Note.
Beberapa tantangan yg pernah kami alami:
Tahun 2009 kami baru pindah rumah di lingkungan baru komplek purna tugas. Hampir tak ada anak yg sholat di masjid komplek. Abi mengajak amas Razin pertama kali di masjid tsb ketika itu umur 2 th. Sambutan yg kami terima "Apa ndak ada ibunya di rumah?" Abi membalasnya dengan senyuman.
Ketika ada bapak-bapak yg responnya akan memarahi, dengan segera abi mengajak amas Razin sholat dekat dengan abi
Tak jarang amas Razin bercerita kalo habis di marahi dan di pelototin bapak di masjid, kami berusaha membesarkan hatinya, dan mengulang bahasan adab di masjid secara sederhana.
Setelah beberapa waktu kita sering bawa amas ke masjid, akhirnya banyak orangtua yg membawa anak kecil kemasjid, tetapi sayang kurang dikondisikan. Ada keluhan seorang ibu kepada abi tentang hal itu. Sikap abi meminta maaf mungkin di dalamnya ada anak kami, kemudian menyampaikan bahwa nantinya merekalah yg akan merawat kita dan masjid kita ini, mhn diberi kesempatan kami berproses.
Abi Razin sering sekali keluar kota bahkan kondisi malam Romadhon skalipun. Ketika itu amas Razin 8 tahun Rifqi 7 tahun dan Ayumi 3 tahun. Saya mengajak 3 anak saya ke masjid sholat terawih. Alhamdulillah berjalan lancar hingga akhir sholat. Ayumi bersama saya, sedang Amas Razin dengan adek Rifqi sholat di shof ikhwan. Namun Rifqi tertidur ketika ceramah hingga sholat witir berakhir. Ayumi pun juga tertidur. Saya sempat panik bagaimana cara pulangnya. Alhamdulillah amas Razin membawakan perbekalan sholat kami. Sedang beberapa bapak dan ibu di masjid berusaha membangunkan adek Rifqi. Meski sambil mengantuk dan sedikit rewel, Rifqi mau berjalan disamping saya yang sedang menggendong Ayumi. Jarak rumah kami dengan masjid sekitaar 150 m. Sekalipun abi Razin sering keluar kota, alhamdulillah ada rollemode almarhum kakek selalu rutin sholat 5 waktunya di masjid
Abi mengajak amas mengikuti sholat, namun terkadang amas di masjid hanya duduk saja di samping abi, ato bahkan tidur-tiduran melihat orang yg sedang sholat selama tidak menggangu jamaah lain, Abi membiarkan meski sebelumnya sudah berusaha memotivasi.
Apresiasi lingkungan
Waktu kami sholat berjamaah di masjid, adik ayumi masih umur 8 bulan. Ketika itu kami masih menjalankan sholat, tiba2 adek ayumi menangis, sehingga sy mengendongnya hingga akhir sholat. Disamping saya ada seorang ibu sesengukan menangis. Saya sapa beliunya, hingga akhirnya bercerita dan mengapresiasi terharu melihat saya sholat dengan putri di gendongan, karena hingga sekarang bliau masih blom di beri amanah tsb.
Pada waktu halalbiahalal RT ada bapak-bapak yang memberi Razin dan Rifqi uang angpau cukup besar katanya " ini hadiah karena rajin ke masjid". Dan amas Razin menceritakan hal itu kepada kami.
Amas Razin jika mulai malas ke masjid, adik Rifqi yg memotifasi untuk berangkat demikian sebaliknya. Alhamdulilah hampir kurang dari 1 tahun ini apabila amas Razin dan adik Rifqi timbul ogah-ogahan ke masjid, teman-temannya gantian nyamperin ke rumah mengajak pergj ke masjid sholat bersama
#bahagiadenganproses
#diantaraliburankami
#suasanaterasmasjidsalmanITB
Keren Bun, bismillah 2 anak kami juga laki². Karena pandemi ini, kebiasaan ke masjid mulai agak terhambat. Bismillah, skr mulai lagi
BalasHapus